Ulasan Singkat, Bagian 1: Para Pengingat

Akhir-akhir ini, saya sadar ada banyak aktivitas yang saya suka namun seringkali, atau bahkan sudah dilupakan, atas satu alasan, sibuk.

Kalau dipikir-pikir, saya tidak sesibuk itu. Menghabiskan waktu bermain games di smartphone, atau scrolling social media akhirnya membuat saya meyakini kalau saya "sibuk". Salah satu yang seringkali terlupakan adalah betapa saya suka membaca buku. Bukan buku yang saya baca untuk membuat impresi orang lain terhadap saya bagus, tapi membaca buku-buku yang memang saya suka. Berkali-kali saya menumpuk dan menumpuk buku-buku tanpa dibaca, atau lebih tepatnya membeli dan dibiarkan teronggok sampai berdebu. Saya berdalih bahwa akan membaca sesuai urutan waktu saya membeli, namun pada akhirnya saya lelah dan mengambil buku yang ingin saya baca saat itu.

Kali ini, 4 buku yang akan saya bahas termasuk ke dalam satu kriteria tersebut. Muncul rasa ingin dan penasaran terhadap buku-buku ini pada saat itu. Bukan karena saya ingin up-to-date dengan trend, bukan karena saya ingin merasa telah meraih sesuatu, dan bukan untuk menuntut saya segera menipiskan tumpukan to be read saya. So, this is it. Ulasan-ulasan singkat mengenai para pengingat yang berhasil mengingatkan betapa menyenangkan membaca buku karena pilihan sendiri.

1. THE HATING GAME by Sally Thorne

Saya lupa, kalau genre roman dewasa muda itu sangat amat sangat menyenangkan untuk dibaca. Berkisahkan dua orang kolega yang menghabiskan waktu di kantor berhadap-hadapan, dengan karakter yang bertolak belakang, dan mengusung konsep enemies to lovers, berhasil membuat saya seketika jatuh hati. Buku ini dipoles dengan bahasa yang mudah dibaca, serta cara si penulis membangun ketegangan dan rasa penasaran para pembaca, membuat sulit sekali rasanya untuk menaruh buku ini dan melakukan aktivitas lain. Seperti judulnya, permainan-permainan yang dilakukan kedua tokoh utama membangunkan rasa kompetitif dan mendorong untuk memilih satu sisi. Sisi yang saya ambil? Untuk mereka berdua berakhir bersama. Dengan Lucy Hutton, saya perlahan meleleh namun tetap bersemangat, untuk bermain bersama Joshua Templeman lebih jauh.  

2. FISH IN THE WATER by Lee Chan-hyuk

Alasan saya membeli buku ini adalah karena penulisnya, Lee Chan-hyuk, mengatakan bahwa ia menulis buku ini karena diminta agensinya menulis introduction untuk album yang ia produseri, yaitu SAILING. Alih-alih menuliskan introduction tersebut, ia memilih menulis buku dan menerbitkannya (video reference untuk statement tersebut). Seperti lagu-lagu yang ditulisnya, buku ini terasa magis dan misterius. Kisah pilu sang tokoh utama, digambarkan dengan ritme yang sederhana namun menggebu. Perasaan hangat dan dingin bergantian muncul seiring saya membaca buku ini. Sesekali saya berhenti untuk mengatur perasaan saya sendiri, dan di akhir cerita, membuat saya menyadari kalau terkadang saya sesekali ingin ikut "berenang" bersama ikan di laut.

Trigger Warning: Jika Anda tidak sedang merasa baik, kondisi mental Anda di posisi yang buruk, atau Anda sedang berada pada fase depresif, saya tidak menyarankan Anda untuk membaca buku ini.

3. BEFORE THE COFFEE GETS COLD by Toshikazu Kawaguchi

"I judge the book by its cover."

Saya termasuk pembaca yang memilih buku dari sampulnya. Saat membeli buku ini, saya sangat suka dengan sampulnya, dan buku ini berhasil memenuhi harapan saya ketika membelinya. Buku ini terasa hangat, tidak seperti kopi yang diceritakan di dalamnya. Penulisnya mampu menghidupkan imajinasi saya dan membuat saya membayangkan latar ceritanya. Saya ingat saya menghabiskan buku ini dalam waktu sehari, terbaring di atas tempat tidur, membolak-balikan badan saat terasa pegal, dan berakhir tersenyum puas. Setelah saya membaca buku ini, saya tidak bisa mengambil buku yang lain. Kisahnya terngiang di kepala dan saya terus menerka-nerka. Apakah, jika saya berada di dalamnya, saya akan pesan kopi itu?

4. SHORTER STORIES by Firnita

Dari keempat buku yang dibahas, buku ini adalah buku yang saya beli dan baca secara impulsif. Saat melihat buku ini di toko buku, saya langsung memutuskan untuk membawanya pulang (tentunya dibayar terlebih dahulu). Hanya saja, sebelum saya sampai di rumah, buku ini saya buka ketika sedang berada di sebuah kafe, dan ternyata di luar harapan saya. Saya tidak menyangka, buku kecil ini dapat membolak-balikan perasaan saya secepat itu. Saya tertawa, tercekat, dan menghela napas perlahan. Cerita singkatnya yang dituturkan cukup menohok dan sangat to the point. Saya rasa, banyak orang yang akan merasa kisahnya disampaikan melalui buku ini. Sembari menyesap kopi dingin, saya berhenti beberapa kali di beberapa halamannya, sambil merenungkan kisah saya di dalamnya.

Ya, empat buku di atas adalah para pengingat dan penyadar, kalau saya tidak perlu memaksakan diri untuk menyukai hal-hal yang disukai orang lain. Saya tidak perlu membaca buku self-care jika akhirnya saya tidak merasa tertarik. Saya tidak perlu membaca buku historis yang "berat" jika akhirnya buku tersebut saya tutup kembali dan dibiarkan berdebu. Saya akan kembali memilih dan membaca apa yang memang ingin saya baca. Postingan ini saya tulis juga untuk pengingat, agar saya bisa kembali melakukan salah satu hal yang saya suka.

Sampai jumpa pada ulasan singkat saya selanjutnya.

Komentar